Penyesuaian Anggaran Perpusnas Jadi Sorotan, Ini Dampaknya terhadap Layanan Literasi Digital
- account_circle Amelia Zahra Syafitry
- calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
- visibility 37
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi akses literasi digital melalui layanan e-book.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
cikampekhitz, Jakarta – Pemerintah menyesuaikan anggaran Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebesar 38,78 persen atau sekitar Rp279,8 miliar. Kebijakan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap program prioritas nasional, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kebijakan tersebut memunculkan perhatian publik, terutama terkait keberlanjutan layanan literasi yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.
Layanan Digital Jadi Andalan Masyarakat
Perpusnas berperan penting dalam memperkuat budaya baca di Indonesia. Lembaga ini tidak hanya mengelola koleksi buku fisik, tetapi juga menyediakan layanan e-book melalui aplikasi resmi yang bisa diakses secara gratis.
Masyarakat dapat membaca berbagai referensi tanpa harus datang ke gedung perpustakaan. Di tengah mobilitas yang tinggi, banyak pelajar, mahasiswa, dan pekerja memanfaatkan akses digital sebagai solusi praktis untuk tetap membaca.
Penyesuaian anggaran ini berpotensi memengaruhi pengembangan koleksi digital serta pemeliharaan sistem layanan daring. Meski pihak terkait belum merinci program yang akan terdampak, layanan digital kini menjadi salah satu pintu utama akses literasi masyarakat.
Pengalaman Pengguna Layanan E-book
Nazwa Ramadhani, salah satu pengguna aktif layanan e-book Perpusnas, mengaku terkejut saat mendengar kabar tersebut. Ia menyampaikan pengalamannya dalam wawancara daring pada Kamis (26/2).
“Saya cukup kaget saat mendengar adanya penyesuaian anggaran, karena selama ini cukup sering menggunakan layanan e-book Perpusnas dan belakangan aplikasinya memang beberapa kali mengalami gangguan seperti error atau loading yang lama. Menurut saya, layanan ini sangat membantu karena memudahkan akses bacaan gratis tanpa harus datang langsung ke perpustakaan.”
Ia menilai kemudahan membaca melalui ponsel atau tablet membantu menjaga kebiasaan membaca, terutama ketika waktu dan akses fisik ke perpustakaan terbatas.
Harapan terhadap Keberlanjutan Layanan
Nazwa juga menyampaikan harapannya agar kualitas layanan tetap terjaga.
“Jika penyesuaian anggaran sampai berdampak pada kualitas layanan, tentu akan disayangkan karena bisa memengaruhi kenyamanan pengguna. Saya berharap layanan e-book Perpusnas tetap dipertahankan dan terus ditingkatkan agar semakin banyak masyarakat yang terbantu dalam mengakses bacaan.”
Menurutnya, akses e-book menjadi alternatif penting bagi masyarakat yang ingin memperoleh bahan bacaan secara mudah dan gratis.
Literasi Tetap Jadi Fondasi Pembangunan
Literasi memegang peran penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Perpustakaan, baik dalam bentuk fisik maupun digital, menghadirkan ruang belajar terbuka bagi berbagai kalangan.
Ke depan, pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas literasi dapat memperkuat kolaborasi untuk menjaga akses bacaan tetap tersedia. Dengan langkah tersebut, masyarakat tetap bisa merasakan manfaat layanan perpustakaan secara luas.
- Penulis: Amelia Zahra Syafitry

Saat ini belum ada komentar